Minggu, 30 Juli 2017

Allah Knows The Best

Setiap manusia pasti menginginkan yang terbaik dalam hidupnya, dan mereka punya tujuan yang ingin dicapai. Satu tujuan tercapai, tercipta tujuan yang lain. Bahkan bagi beberapa orang, membuat rencana jangka panjang itu hal yang sangat penting. Aku lebih suka membuat rencana jangka pendek, rencana tahunan. Biasanya kubuat list dan kusimpan untuk diriku sendiri. Saking fokusnya pada rencana yang dibuat, terkadang membuat kita sebagai manusia terlalu terpuruk ketika hidup tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Mungkin beberapa orang belum bisa menerima dengan sepenuh hati tentang ujaran bahwa Allah tau yang terbaik. Aku pribadi, aku sangat percaya akan hal itu. Kenapa? Aku percaya karena suatu pengalaman berharga yang kualami beberapa tahun yang lalu.
Aku suka banget menulis. Aku mulai menulis sejak kelas 2 SD. Aku suka banget dongeng tentang putri dan kerajaan, dan hal-hal fantasi lainnya. Aku menulis apapun yang aku lihat, apapun yang aku rasakan. Kalau bisa dikumpulkan, buku diariku pasti banyak banget, belum ditambah buku tulis yang biasa aku pakai untuk membuat cerpen atau cerita yang lebih panjang.
Aku mulai serius menulis ketika SMP. Aku punya suatu tujuan yang bisa disebut itu tujuan yang sangat penting. Aku ingin bisa menerbitkan cerita yang aku tulis. Kebetulan aku tau kalau Penerbit Mizan membuka lini yang merima naskah anak-anak yaitu KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) dan lini yang menerima naskah remaja yaitu PBC (Pink Berry Club). Awalnya aku menulis dengan tujuan tembus lini KKPK, tapi aku sudah berumur 13 tahun sehingga aku tidak bisa mengirim ke sana. Akhirnya naskah yang kutulis hampir 2 tahun, dengan revisi yang sudah tidak terhitung lagi, dengan bantuan Papa yang bolak-balik kirim bahan revisi lewat email karena waktu itu beliau kerja di tempat yang jauh, akhirnya naskah itu selesai. Aku ke tempat rental komputer untuk nge-print lalu ke kantor pos sendiri. Aku ngirim naskah itu akhir bulan Desember tahun 2013, ketika aku kelas 3 SMP.
Sejak ngirim naskah itu, aku tidak pernah melewatkan sehari memikirkan bagaimana nasib naskahku itu di meja editor. Aku bolak balik telepon ke sana untuk menanyakan status naskah, sampai Mama marah karena hal itu bikin aku tidak fokus sekolah, padahal waktu itu hampir UN SMP. Kata Mama, kalau waktunya pengumuman juga pasti bakal dikasih tau. Ya sudah, aku berusaha sabar.
Sudah hampir setahun naskah aku tidak kabar. Mending kalau ada kabar, sekalipun ditolak, ini tidak ada kabar sama sekali. Akhirnya aku telepon lagi ke sana dan ternyata naskah aku nyasar. Jadi naskah aku nyasar ke lini KKPK, dengan antrian ke meja editor yang lebih panjang, dan mungkin bakal langsung ditolak karena umurku udah lewat dari ketentuan. Kata petugas yang ngangkat telepon aku, naskah aku bagus untuk KKPK. Entah kenapa aku langsung berpikir, mungkinkah tidak cukup bagus untuk PBC which means naskah aku ditolak? Ternyata katanya masih harus beberapa bulan di meja editor. Aku mencoba sabar, dan aku menunggu lagi, dari awal.
Sekitar 7 bulan kemudian, ketika aku sedang buka email, ada satu pesan dan aku deg-degan banget waktu baca judulnya karena itu berkaitan dengan pengumuman naskah PBC dan aku masih inget gimana speechless-nya aku pas tau naskahku bakal terbit! Mama senang banget pas denger itu, apalagi Papa. Benar-benar dream comes true!
Dan akhirnya… buku solo pertamaku yang berjudul A Dreamer And The Hard Life resmi terbit Oktober 2014, waktu aku kelas 2 SMA. Menunggu 2 tahun itu… terasa sangat lama buat aku. Untungnya sejak aku kecil, Mama selalu mengajarkan tentang mencari hikmah dibalik segala hal yang terjadi. Karena kalau kita tau hikmah dibalik semua itu, kita bakal nangis, terharu, kita bakal sadar kalau Allah tuh sayang banget sama kita.
Jadi aku berjilbab Alhamdulillah ketika aku naik kelas 2 SMA. Dan ketika aku kirim naskah itu aku pakai fotoku yang belum pake jilbab. Sebelum terbit, aku dibolehin untuk ganti foto, kalau mau. Karena waktu itu aku sudah pakai jilbab, aku kirim fotoku yang sudah pake jilbab. Sampai sekarang aku masih tidak bisa membayangkan gimana kalau buku itu langsung terbit saat itu juga, atau terbit ketika aku belum pake jilbab dan fotoku yang belum berjilbab itu tersebar luas dan ratusan bahkan mungkin ribuan orang melihat, sudah sebanyak apa dosa yang harus aku tanggung.
Ketika aku sadar hal itu untuk pertama kali, aku nangis sejadi-jadinya. Aku yakin aku bakal stress kalau aku terus terusan dihantui dosa-dosa yang sebanyak itu dan bakal terus bertambah bahkan ketika aku udah di alam kubur sekalipun.

Kadang kita ngerasa Allah jahat, tidak adil, padahal Dia sedang berusaha melindungi kita dari hal yang bisa jadi akan kita sesali nantinya. Allah tidak pernah berkata tidak. Dia akan selalu mengabulkan permintaan hamba-Nya, atau memberi yang terbaik, karena hanya Dia yang tau apa yang terbaik untuk kita. 
Share:

Rabu, 07 Juni 2017

Lelucon Tanggal Merah dan Fakta dalam Sejarah

Agama-agama yang diakui di Indonesia: Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Khonghucu
Pernyataan diatas, apabila saya tidak salah ingat, pertama kali saya tau saat saya masih berseragam merah-putih, spesifiknya lewat buku RPUL yang pada masa saya sedang hits-hitsnya hingga hampir semua murid sekolah dasar punya. Ketika itu saya kelas 3 SD, dan kami wajib hapal hal-hal penting terkait agama-agama tersebut seperti kitab suci, tempat ibadah, dan tidak lupa hari besar keagamaan yang juga dinyatakan sebagai hari libur nasional. Saya masih ingat betul waktu itu Bu Desi, wali kelas saya berkata, “Kita harus bersyukur lho di Indonesia ini agama yang diakui banyak.” Kemudian salah seorang murid membalas,”Kok begitu, Bu?” 
“Ketika umat muslim dapat libur lebaran, umat beragama lain juga libur. Ketika umat Katolik dan Protestan libur Natal dan Paskah, umat bergama lain juga libur. Coba kalau agama yang diakui hanya satu, hari libur nasionalnya jadi sedikit, kan.”
Karena saat itu saya dan teman-teman masih kecil dan sangat menyukai hari libur, kami serempak mengiyakan, meng-oh-kan, sembari mengangguk-angguk. Sejak saat itu saya memandang kelebihan keberagaman hanya sebatas menambah hari libur.
Beranjak dewasa, saya mengenal pelajaran Sejarah. Sejak SMP materi Sejarah yang diberikan sangat banyak, dan saya berpikir bahwa sejarah itu untuk dihafal, dihafal agar nilai ujian bagus dan dapat peringkat satu di kelas. Pemikiran itu terus berlanjut hingga saya SMA. Saya anak IPA ketika SMA, dan saya heran setengah mati ketika tau saya masih harus belajar Sejarah selama tiga tahun dan materi yang diberikan bisa dibilang ‘itu-itu’ lagi. Tentang manusia purba, sejarah kerajaan Hindu-Buddha-Islam di Indonesia, penjajahan, dan kemerdekaan, mungkin dengan materi yang lebih dalam, namun intinya sama saja. Teori bahwa ‘sejarah itu untuk dihafal, dihafal agar nilai ujian bagus dan dapat peringkat satu’ masih saya gunakan, sampai saya lulus dan bisa menjadi bagian dari institut terbaik bangsa.
Sekarang, mari tengok realita di sekitar kita. Sadarkah kalian tentang keadaan Indonesia sekarang? Sadarkah kalian bahwa Indonesia kini mulai terancam keberadaannya? Rasisme dimana-mana, rasa dan sikap toleran antar umat beragama menurun. Seperti itukah Indonesia yang diharapkan oleh kita? Seperti itukah Indonesia yang diharapkan para pahlawan bangsa yang telah memperjuangkan kemerdekaan? 
Saya tau, kalian tau, kita semua tau bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan, dengan lebih dari 17000 pulau besar dan kecil, menjadikan Indonesia negara yang begitu kaya dengan keberagaman suku, ras, bahasa, budaya, dan agama. Tidak akan ada yang tidak setuju dengan itu. Bayangkan saja, ada lebih dari 500 bahasa dan 1300 suku bangsa di Indonesia. Dan sadarkah kalian, bahwa Indonesia yang sekarang telah merdeka-katakanlah demikian-merupakan buah dari keberagaman?
Bhinneka Tunggal Ika, sebuah mantra pemersatu bangsa, semboyan kebanggaan yang ditemukan pada Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular  pada abad XV pada era Kerajaan Majapahit. Mpu Tantular sejatinya merupakan seorang penganut Buddha Tantrayana yang merasa tentram dan aman hidup dalam Kerajaan Majapahit yang bernapaskan Hindu pada masa itu. Pada Kerjaan Sriwijaya pun terjadi hal yang sama. Hal ini menjadi gambaran bahwa bahkan sebelum Indonesia merdeka, sebelum istilah ‘Indonesia’ dicetuskan, sebelum mereka mengenal persatuan pun hidup damai antar umat beragama pun sudah menjadi hal biasa.
Mari kita telusuri lagi sejarah bangsa Indonesia. Pada awal abad XVI, penjajah mulai datang. Portugis adalah yang pertama, disusul Spanyol, Belanda, kemudian Jepang. Ingatkah kalian bahwa sebelum abad XX semua perang melawan penjajah yang terjadi bersifat kedaerahan? Ingatkah kalian bahwa sebelum abad XX setiap kerajaan melawan penjajah hanya untuk melindungi dan memperjuangkan daerah kekuasaan mereka saja? Dan ingatkah kalian seperti apa akhirnya? K-A-L-A-H. Sebut saja serangan Kerajaan Demak ke Malaka yang dipimpin Adipati Unus, serangan Kerajaan Aceh ke Malaka yang dipimpin Ali Mughayat Syah dan Alaudin Ri'ayat Syah bahkan pada masa pemerintahan Iskandar Muda tahun 1629, dan perlawanan rakyat Maluku yang berakhir karena perpecahan akibat politik adu domba Belanda. 
Kekalahan yang terjadi memang tidak didasari oleh satu faktor saja, namun kita bisa tarik benang merah dari semua peristiwa kekalahan itu yaitu belum adanya persatuan dan kesatuan sehingga apabila pemimpin mereka wafat dan mengalami kekalahan, perjuangan mereka terhenti sampai di situ. 
Berbeda dengan perjuangan setelah abad XX, ketika semua perlawanan dilakukan bukan lagi atas nama daerah atau suku tertentu melainkan atas nama Indonesia, ketika semua perlawanan digencarkan atas dasar persatuan dan kesatuan, kemenangan bisa diraih hingga tercapailah kemerdekaan. Merdeka bukan jaminan kekalnya persatuan, terbukti pada masa perumusan sila pertama Pancasila, yang semula berbunyi Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa dalam rangka mencegah separatisme masyarakat beragama Protestan dan Katolik di wilayah Indonesia bagian Timur yang merasa adanya diskriminasi terhadap kaum minoritas.
Apabila kita mundur dan menelusuri kembali asal usul persatuan di Indonesia, persatuan dan kesatuan muncul pada era kebangkitan nasional, ditandai dengan organisasi-organisasi pergerakan nasional yang dipelopori pemuda berintelek. Fakta ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi kita, pemuda pemudi Indonesia, orang-orang yang berintelek, katanya. Keadaan Indonesia saat ini, yang bisa saya katakan berada diambang kehancuran, apa mau kita biarkan begitu saja? Sama seperti waktu dulu, kita sebagai mahasiswa sekaligus pemuda bangsa Indonesia harus mampu mematik kembali semangat persatuan dan kesatuan. Kita harus sadar bahwa persatuan merupakan salah satu warisan dari para pahlawan bangsa, dan kita berkewajiban untuk mempertahankannya, karena untuk bisa menciptakan persatuan itu butuh perjuangan dan usaha yang begitu luar biasa dan untuk mempertahankan itu membutuhkan usaha yang jauh lebih besar.
Itulah pentingnya mengetahui sejarah. Seperti kutipan pidato terakhir Soekarno, “Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah.”
Dibalik peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi kita dapat mengambil sebuah pembelajaran berharga, diantaranya mengenai persatuan bangsa dan toleransi umat beragama, bahwa betapa pahlawan-pahlawan Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan, karena sejatinya itulah yang membangun Indonesia sejak dulu hingga saat ini. Dan satu hal yang pasti, kemerdekaan Indonesia bisa diraih bukan hanya karena jasa suatu suku, bangsa, atau umat suatu agama tertentu, melainkan karena jasa seluruh bangsa Indonesia.

Sekarang saya tau.
Kamu pun tau.
Maka kita harus bergerak.
Berawal dari diri sendiri, untuk Indonesia yang abadi.
Seperti pelangi yang tersusun atas warna yang berbeda-beda
Hilang satu warna saja, bukan pelangi namanya
Sama seperti bangsa Indonesia
Hilang satu saja suku, bangsa, bahasa, ras, budaya maupun agamanya
Bukan Indonesia lagi namanya.
Nah, saya akan bertanya,
Apakah sekarang kita tinggal di Indonesia?


#MozaikPergerakan
#DariKitaUntukIndonesia
#IndonesiaTetapBersatu
Share:

Sabtu, 28 Februari 2015

Pink Berry Club: A Dreamer And The Hard Life

Hai teman-teman! Sudah lama ya tidak berbagi cerita di sini. Nah... mumpung sempat, aku mau berbagi sedikit cerita kepada kalian. Pada Oktober 2014 yang lalu, novel solo pertamaku dari lini Pink Berry Club akhirnya terbit! Alhamdulillah... Mungkin beberapa dari kalian ada yang sudah pernah lihat sampulnya di toko buku, atau pernah dengar judulnya, atau mungkin sudah beli dan membaca ceritanya? Bagaimana? Seru, kan? Nah... Bagi yang belum beli dan membaca ceritanya, yuk simak kisah singkat novel pertamaku ini!







Judul: A Dreamer And The Hard Life
Penulis: Sinar Kasih Mentari
Diterbitkan Oleh: Penerbit DAR! Mizan
Cetakan Pertama: Oktober 2014
Tebal: 180 halaman

SINOPSIS:
Gabby senang bermain badminton. Biasanya Gabby berlatih ditemani Bunda. Beliau selalu menyemangati kapan pun Gabby merasa ingin maupun malas berlatih. Bunda juga yang menasihati agar Gabby tidak putus asa ketika mengalami kekalahan.
Suatu hari, gempa bumi mengguncang tempat tinggal Gabby. Bunda tertimpa tiang rumah. Hidup Bunda tidak terselamatkan. Hidup Gabby rasanya ikut terkena gempa. Gabby sedih. Ayah kemudian menikah lagi dengan Tante Sophie dan mereka pindah ke kota.
Hari pertama di sekolah baru, Gabby sudah mendapat tantangan dari anak laki-laki sok nge-bos. Mampukah Gabby menjaga kepalanya tetap dingin menghadapi tantangan Si Anak Kota? Inilah ujian awal Gabby untuk mencapai impiannya menjadi pebulutangkis profesional.


Gimana? Dari sinopsisnya, sudah terbayang keseruannya kan? Novel ini memang bercerita tentang perjuangan seorang gadis remaja bernama Gabby untuk menjadi pemain bulutangkis profesional seperti idolanya. Seperti kenyataannya, perjalanan mencapai keberhasilan itu tidak mudah. Banyak sekali rintangan yang harus dilalui Gabby dan benar-benar menguji kesabarannya. 

Mungkin beberapa dari kalian berpikir, kenapa aku menulis cerita tentang hal ini? Nah... Namanya saja remaja, pasti tidak bisa jauh-jauh dari yang namanya mimpi atau cita-cita, kan? Bahkan, bukan hanya remaja saja lho yang sudah berani bermimpi dan memiliki cita-cita yang tinggi. Jadi, aku ingin mengajak para pembacaku  untuk terus memperjuangkan sesuatu yang selama ini kita yakini. Tidak peduli rintangan apa yang harus kita hadapi kedepannya, karena justru itulah yang membuat kita semakin kuat menjalani hidup.


Pasti... jadi penasaran kan sama ceritanya? Tidak perlu sedih... bukunya masih tersebar luas di sleuruh toko buku besar di seluruh INDONESIA lho! Jadi... buruan beli ya! Atau... bagi yang belum sempat ke toko buku, bisa membelinya lewat sini: http://mizanstore.com/detailproduct/22777-PBC-A-Dreamer-and-The-Hard-Life


Jadi... jangan sia-siakan masa mudamu ya! Kalau Gabby saja berani bermimpi, kenapa kamu tidak? Salam Dreamers!


*Kalian bisa menghubungiku lewat:

Facebook: https://www.facebook.com/sinarkasih.mentari
Twitter: https://twitter.com/MentariSKM
めんたり


Share:

Rabu, 01 Oktober 2014

Hujan


Hujan

Kulangkahkan kakiku ke luar kafe, meninggalkan bunyi lonceng yang digantung di atas pintu masuk. Baru saja aku berjalan beberapa langkah, air mata sang langit malam jatuh, semakin lama semakin deras. Buru-buru aku berbalik, namun tidak masuk ke dalam kafe. Begitu konyol bukan jika aku duduk di salah satu bangku pelanggan hanya untuk berteduh dari hujan? Apa yang harus kukatakan jika salah satu temanku yang bekerja sebagai pelayan menawariku sesuatu sementara tidak ada barang satu sen pun di dalam saku celanaku?
Setengah jam berlalu dan hujan masih terus membagi air matanya. Kulirik arlojiku, sudah terlalu malam. Kulepas jaket tebalku lalu kuangkat ke atas, menjadikannya pengganti payung. Perlahan aku melangkah, menerebos hujan yang kian deras.
Tiba-tiba, sosok Yumi terlintas di pikiranku. Yumi, gadis yang kusukai sejak dua tahun lalu, saat kami memulai tahun pertama kami di SMA yang sama. Selama dua tahun kami selalu sekelas. Kurasa, itu adalah suatu kebetulan yang luar biasa, atau takdir, atau Tuhan hanya kasihan padaku yang belum cukup berani mengungkapkan perasaanku pada Yumi.
 “Moto?” Kutolehkan kepalaku perlahan… Ya Tuhan, sedang apa bidadari di halte bis saat hujan seperti sekarang ini? “Baru pulang kerja dari kafe?” Aku menepi, lalu berdiri di sampingnya.
“Iya,” jawabku singkat dengan kepala tertunduk. Kulihat tetes-tetes air hujan turun dari ujung rambutku. Ya, jaket tidak cukup untuk berlindung dari hujan. “Kenapa… Yumi-chan ada disini?”
“Sedang menunggu hujan reda,” jawabnya sembari tersenyum. Sungguh, aku merasa hangat saat melihat senyumnya.
“Ayo jalan,” Yumi mengangguk dengan tatapan bingung ke arahku yang sudah siap melindunginya dari hujan dengan jaketku, lalu melangkah menerobos hujan yang semakin mengamuk.
Baru beberapa langkah, bahu kiri Yumi mulai basah, tubuhnya mulai gemetar. Kugeser tubuhku ke kanan, membiarkan tubuhku merasakan dinginnya hujan malam ini. “Aku akan melindungimu, Yumi-chan.”
“Eh?”
“Aku berjanji!” Yumi terkekeh, lalu menarik lengan kiriku dengan cepat, membiarkan jaketku jatuh, membiarkan dirinya disiram hujan. Betapa terkejutnya aku saat ia mendaratkan kepalanya di bahu kiriku dan sebelah tangannya menggenggam erat tanganku, lalu ia tersenyum.
“Aku percaya,”


Terinspirasi dari lagu : Diana Ross-When You Tell Me That You Love Me
Share:

Minggu, 21 September 2014

Fur Alice

Setelah sekian lama menghilang finally I'm back! (Maklumlah, lagi ngejar deadline sana sini.) Dan ini karena tantangan cetar dari kakak@KampusFiksi yang kali ini memberi tantangan #FiksiLaguku . Karangan ini terisnpirasi dari lagu klasik legendaris, Fur Elise yang sekarang biasa dipakai untuk sirene tukang roti itu lho. Oke, langsung aja deh ke cerita di bawah ini! Enjoy reading everyone :)
Fur Alice
Dinginnya udara musim salju menusuk kulitku, membuat kedua tanganku semakin erat meringkuk tubuhku yang mungil. Aku masih merasa cukup nyaman di sini, ditengah kerumunan orang yang mengeluh, karena acara orkestra yang mereka tunggu-tunggu belum juga mulai.
Aula menghangat perlahan. Kurasa, aku akan menonton orchestra ini sampai selesai. Bukan karena ingin numpang menghangatkan diri, melainkan karena ada seseorang, seseorang yang begitu istimewa. Seseorang yang selalu membuat jantungku berdetak lebih cepat ketika menatapnya, seseorang yang selalu membuatku senyum-senyum sendiri saat mengingatnya.
Seseorang berjas hitam keluar dari balik panggung, berjalan pelan menghampiri piano hitam di tengah panggung, lalu mulai memainkan sebuah lagu. “Untuk Beethoven, ini Fur Elise. Tapi untukku, ini Fur Alice,” ucapnya setelah memainkan lagu itu, dengan tangan terangkat, mengarah ke arahku. “Ich liebe dich, Alice.”

M
Tepat 123 kata, ditambah judul jadi 125 kata, karya ini kupersembahkan sepenuh jiwa untuk tantangan #FiksiLaguku :)
Share:

Rabu, 16 Juli 2014

Ditipu Bakso

Ini ketiga kalinya aku ikut tantangan @KampusFiksi dan tema kali ini adalah #DeskripsiBakso . Semoga aku tidak mengulangi kesalahan untuk yang ketiga kalinya -_- Okey! Enjoy reading, Kakak :)

---

          Di tengah teriknya matahari, Boim jalan-jalan seorang diri dengan riang gembira. Bibirnya seakan tidak lelah untuk selalu tersenyum. Saking lincahnya, rambut Boim yang mirip duri landak itu bergoyang naik turun mengikuti irama hentakan kaki Boim yang juga diiringi gerakan perutnya yang buncit.
“Andi! Farel!” teriak Boim sambil berlari menghampiri kedua sahabatnya. “Kalian mau kemana, nih? Ikut dong!”
“Kami mau ke rumahmu, Im,” balas Andi bersemangat. “Seminggu lagi, kan ulang tahunmu. Bukankah biasanya kamu menyelenggarakan pesta besar-besaran setiap tahun?”
“Tentu saja,” sahut Boim sombong.
“Omong-omong, tema tahun ini apa, Im? Tema dua tahun yang lalu, kan Tropical Fruit dan teman setahun yang lalu Veggie Land. Tema tahun ini harus lebih cetar dong...” balas Farel.
“Pasti dong!” kilah Boim tidak kalah sombong dari sebelumnya. “Tema tahun ini...”
“Boim! Andi! Farel!” sapa Roni.
Boim, Andi, dan Farel yang sedang asyik mengobrol serempak menoleh ke arah Roni yang dengan semangat berlari kearah mereka.
“Hai Roni!” sapa Boim penuh semangat. “Kamu sudah tau apa belum tentang pesta ulang tahunku? Eh iya, kamu mau kemana sih? Kok sepertinya buru-buru sekali?”
“Aku belum tau nih tentang pestamu,” jawab Roni. “Sebenarnya, aku mau mencari makan siang. Soalnya, Ibu tidak sempat memasak. Omong-omong, kalian lagi ngapain nih? Kuperhatikan dari kejauhan, seperti sedang diskusi penting saja,” celetuknya.
“Kami lagi membahas ulang tahun Boim, Ron,” jawab Andi.
“Hei! Kalian lapar?” tanya Boim. Andi, Farel, dan Roni saling berpandangan kemudian mengangguk pelan. “Kalau begitu, bagaimana kalau kutraktir makan siang? Anggaplah ini sebagai permulaan dari pestaku. Dengan begini, kalian bisa tau tema pestaku tahun ini.”
“Wah... boleh juga tuh!” sahut Farel senang.
Boim melangkah mantap dengan gaya sok bos menuju jalan raya diikuti Andi, Farel, dan Roni di belakangnya. Ketiga bocah itu, Andi, Farel, dan Roni terlihat tidak sabar mengetahui kemana Boim mengajak mereka makan siang, termasuk tentang tema pesta Boim yang selalu sukses membuat mereka kekenyangan setiap tahun saking banyaknya makanan yang dihidangkan. Langkah Boim terhenti di depan tenda bakso Mang Jono yang sudah sering ia kunjungi.
“Mang Jono!” sapa Boim sambil duduk di salah satu deretan kursi kayu yang masih kosong diikui ketiga sahabatnya. “Pesan bakso empat mangkok, yang ekstra banyak ya!”
“Siap!” sahut Mang Jono bersemangat. Beliau meracik empat mangkuk bakso dengan sangat lincah, bersemangat, dan cekatan. Kedua tangannya bergerak lincah, yang kanan sibuk meramu bumbu-bumbu dan menuangkan mie kuning serta bihun ke dalam sementara tangan kirinya sibuk mengaduk-aduk kuah bakso yang mengepul semakin lebat dan membuat perut  Andi  keroncongan.
“Kalau masih kurang, tambah saja sesuka kalian!” celoteh Boim sombong.
“Kalau mau tambah, silahkan! Sekalian sama gerobaknya juga boleh!” celetuk Mang Jono sambil meracik empat mangkuk bakso yang terlihat begitu penuh. “Silahkan!”
Mang Jono meletakan empat mangkuk bakso di atas meja, begitu pula dengan empat gelas air mineral. Tanpa berpikir panjang, Boim, Andi, dan Farel langsung menyantap bakso tersebut dengan lahap. Berbeda dengan ketiga sahabatnya, Roni hanya diam mematung dengan bibir mencibir dan kedua mata yang memandang rendah semangkuk bakso yang ada di hadapannya.
“Kenapa kamu tidak makan, Ron? Katanya lapar?” tanya Boim heran dengan mulut penuh bakso dan potongan mi kuning di sekitar mulutnya yang semakin semangat mengunyah. “Tidak jadi lapar?”
“Bukannya gitu,” sanggah Roni. “Aku, kan tidak suka bakso.”
“Ha?” ujar Andi. “Bakso itu, kan enak. Masa’ kamu tidak suka. Rugi tau!”
“Ya... mau bagaimana lagi. Namanya juga tidak suka. Sudah ya. Aku cari makan dulu,” jawab Roni agak kesal dengan ucapan Andi kemudian berlari pergi meninggalkan tenda bakso Mang Jono.
“Andi sih... pake ngomong kayak begitu,” sambar Farel. “Kan, kasihan Roni. Kamu, sih tidak mengerti perasaannya.” Andi hanya mengangkat bahu sambil memasukan potongan-potongan bakso yang begitu menggoda kedalam mulutnya. “Oh iya! Boim, jangan-jangan... tema pestamu itu ada hubungannya dengan daging, ya?” tebak Farel dengan gaya sok detektif.
“Betul sekali!” balas Boim. “Temanya adalah Beef Party! Segala macam makanan olahan daging akan ada disana! Jangan lupa datang ya!”
“Tunggu!” ujar Farel. “Roni tidak suka bakso. Itu berarti dia tidak suka daging sapi yang menjadi bahan dasar bakso. Iya, kan?”
 “Siapa tau... yang membuatnya tidak suka itu bihunnya atau mi kuningnya. Kan belum tentu bakso yang membuatnya tidak suka,” bantah Andi.
“Andi, apa kamu lupa? Roni sangat suka mi ayam. Tidak mungkin dia tidak suka mi kuning. Lagipula, ibunya sering memasak bihun pedas. Kalau memang Roni tidak suka bihun, ibunya tidak mungkin memasak bihun pedas sesering itu,” sanggah Farel.
“Benar juga kamu, Rel!” balas Boim. “Yah... mau bagaimana lagi. Kalau memang Roni tidak suka daging, kita tidak bisa berbuat apa-apa.” Andi dan Farel mengangguk bersamaan.
Hari yang ditunggu-tunggu Boim telah tiba. Rumahnya yang besar nan mewah dipenuhi para tamu yang bergantian mengucapkan selamat dan curahan doa-doa baik kepadanya. Andi dan Farel sudah datang dengan kedua orang tua mereka yang kini sedang berbincang-bincang dengan kedua orang tua Boim sementara Andi dan Farel sibuk mencicipi berbagai macam hidangan yang mengundang nafsu mereka.
Setelah menunggu selama satu setengah jam, akhirna Roni datang dengan sekotak hadiah besar yang langsung ia berikan kepada Boim. “Ng.. Roni... masalah bakso itu...”
“Kenapa?” tanya Roni sambil mengambil beberapa potong daging sapi panggang dan mulai menyantapnya dengan saus bawang. Boim, Andi, dan Farel sama-sama terbelak melihatnya. “Kalian kenapa, sih? Kenapa melihatku seperti itu?” Boim, Andi, dan Farel hanya menggeleng pelan sementara Roni sibuk mencicipi hidangan lain seperti sosis bakar, kornet telur goreng, dan tumis daging dengan paprika.

“Roni kok sekarang suka daging? Padahal seminggu yang lalu ia kelihatan benar-benar tidak suka dengan yang namanya bakso,” ujar Andi. Boim dan Farel hanya menggeleng pelan. 

Jumlah kata : 897 kata ditambah 2 kata dari judul, menggunakan kata 'kemudian' dua kali, dan tidak menggunakan kata 'lalu', 'lantas', dan 'terus'.
Share: