Sabtu, 28 Februari 2015

Pink Berry Club: A Dreamer And The Hard Life

Hai teman-teman! Sudah lama ya tidak berbagi cerita di sini. Nah... mumpung sempat, aku mau berbagi sedikit cerita kepada kalian. Pada Oktober 2014 yang lalu, novel solo pertamaku dari lini Pink Berry Club akhirnya terbit! Alhamdulillah... Mungkin beberapa dari kalian ada yang sudah pernah lihat sampulnya di toko buku, atau pernah dengar judulnya, atau mungkin sudah beli dan membaca ceritanya? Bagaimana? Seru, kan? Nah... Bagi yang belum beli dan membaca ceritanya, yuk simak kisah singkat novel pertamaku ini!







Judul: A Dreamer And The Hard Life
Penulis: Sinar Kasih Mentari
Diterbitkan Oleh: Penerbit DAR! Mizan
Cetakan Pertama: Oktober 2014
Tebal: 180 halaman

SINOPSIS:
Gabby senang bermain badminton. Biasanya Gabby berlatih ditemani Bunda. Beliau selalu menyemangati kapan pun Gabby merasa ingin maupun malas berlatih. Bunda juga yang menasihati agar Gabby tidak putus asa ketika mengalami kekalahan.
Suatu hari, gempa bumi mengguncang tempat tinggal Gabby. Bunda tertimpa tiang rumah. Hidup Bunda tidak terselamatkan. Hidup Gabby rasanya ikut terkena gempa. Gabby sedih. Ayah kemudian menikah lagi dengan Tante Sophie dan mereka pindah ke kota.
Hari pertama di sekolah baru, Gabby sudah mendapat tantangan dari anak laki-laki sok nge-bos. Mampukah Gabby menjaga kepalanya tetap dingin menghadapi tantangan Si Anak Kota? Inilah ujian awal Gabby untuk mencapai impiannya menjadi pebulutangkis profesional.


Gimana? Dari sinopsisnya, sudah terbayang keseruannya kan? Novel ini memang bercerita tentang perjuangan seorang gadis remaja bernama Gabby untuk menjadi pemain bulutangkis profesional seperti idolanya. Seperti kenyataannya, perjalanan mencapai keberhasilan itu tidak mudah. Banyak sekali rintangan yang harus dilalui Gabby dan benar-benar menguji kesabarannya. 

Mungkin beberapa dari kalian berpikir, kenapa aku menulis cerita tentang hal ini? Nah... Namanya saja remaja, pasti tidak bisa jauh-jauh dari yang namanya mimpi atau cita-cita, kan? Bahkan, bukan hanya remaja saja lho yang sudah berani bermimpi dan memiliki cita-cita yang tinggi. Jadi, aku ingin mengajak para pembacaku  untuk terus memperjuangkan sesuatu yang selama ini kita yakini. Tidak peduli rintangan apa yang harus kita hadapi kedepannya, karena justru itulah yang membuat kita semakin kuat menjalani hidup.


Pasti... jadi penasaran kan sama ceritanya? Tidak perlu sedih... bukunya masih tersebar luas di sleuruh toko buku besar di seluruh INDONESIA lho! Jadi... buruan beli ya! Atau... bagi yang belum sempat ke toko buku, bisa membelinya lewat sini: http://mizanstore.com/detailproduct/22777-PBC-A-Dreamer-and-The-Hard-Life


Jadi... jangan sia-siakan masa mudamu ya! Kalau Gabby saja berani bermimpi, kenapa kamu tidak? Salam Dreamers!


*Kalian bisa menghubungiku lewat:

Facebook: https://www.facebook.com/sinarkasih.mentari
Twitter: https://twitter.com/MentariSKM
めんたり


Share:

Rabu, 01 Oktober 2014

Hujan


Hujan

Kulangkahkan kakiku ke luar kafe, meninggalkan bunyi lonceng yang digantung di atas pintu masuk. Baru saja aku berjalan beberapa langkah, air mata sang langit malam jatuh, semakin lama semakin deras. Buru-buru aku berbalik, namun tidak masuk ke dalam kafe. Begitu konyol bukan jika aku duduk di salah satu bangku pelanggan hanya untuk berteduh dari hujan? Apa yang harus kukatakan jika salah satu temanku yang bekerja sebagai pelayan menawariku sesuatu sementara tidak ada barang satu sen pun di dalam saku celanaku?
Setengah jam berlalu dan hujan masih terus membagi air matanya. Kulirik arlojiku, sudah terlalu malam. Kulepas jaket tebalku lalu kuangkat ke atas, menjadikannya pengganti payung. Perlahan aku melangkah, menerebos hujan yang kian deras.
Tiba-tiba, sosok Yumi terlintas di pikiranku. Yumi, gadis yang kusukai sejak dua tahun lalu, saat kami memulai tahun pertama kami di SMA yang sama. Selama dua tahun kami selalu sekelas. Kurasa, itu adalah suatu kebetulan yang luar biasa, atau takdir, atau Tuhan hanya kasihan padaku yang belum cukup berani mengungkapkan perasaanku pada Yumi.
 “Moto?” Kutolehkan kepalaku perlahan… Ya Tuhan, sedang apa bidadari di halte bis saat hujan seperti sekarang ini? “Baru pulang kerja dari kafe?” Aku menepi, lalu berdiri di sampingnya.
“Iya,” jawabku singkat dengan kepala tertunduk. Kulihat tetes-tetes air hujan turun dari ujung rambutku. Ya, jaket tidak cukup untuk berlindung dari hujan. “Kenapa… Yumi-chan ada disini?”
“Sedang menunggu hujan reda,” jawabnya sembari tersenyum. Sungguh, aku merasa hangat saat melihat senyumnya.
“Ayo jalan,” Yumi mengangguk dengan tatapan bingung ke arahku yang sudah siap melindunginya dari hujan dengan jaketku, lalu melangkah menerobos hujan yang semakin mengamuk.
Baru beberapa langkah, bahu kiri Yumi mulai basah, tubuhnya mulai gemetar. Kugeser tubuhku ke kanan, membiarkan tubuhku merasakan dinginnya hujan malam ini. “Aku akan melindungimu, Yumi-chan.”
“Eh?”
“Aku berjanji!” Yumi terkekeh, lalu menarik lengan kiriku dengan cepat, membiarkan jaketku jatuh, membiarkan dirinya disiram hujan. Betapa terkejutnya aku saat ia mendaratkan kepalanya di bahu kiriku dan sebelah tangannya menggenggam erat tanganku, lalu ia tersenyum.
“Aku percaya,”


Terinspirasi dari lagu : Diana Ross-When You Tell Me That You Love Me
Share:

Minggu, 21 September 2014

Fur Alice

Setelah sekian lama menghilang finally I'm back! (Maklumlah, lagi ngejar deadline sana sini.) Dan ini karena tantangan cetar dari kakak@KampusFiksi yang kali ini memberi tantangan #FiksiLaguku . Karangan ini terisnpirasi dari lagu klasik legendaris, Fur Elise yang sekarang biasa dipakai untuk sirene tukang roti itu lho. Oke, langsung aja deh ke cerita di bawah ini! Enjoy reading everyone :)
Fur Alice
Dinginnya udara musim salju menusuk kulitku, membuat kedua tanganku semakin erat meringkuk tubuhku yang mungil. Aku masih merasa cukup nyaman di sini, ditengah kerumunan orang yang mengeluh, karena acara orkestra yang mereka tunggu-tunggu belum juga mulai.
Aula menghangat perlahan. Kurasa, aku akan menonton orchestra ini sampai selesai. Bukan karena ingin numpang menghangatkan diri, melainkan karena ada seseorang, seseorang yang begitu istimewa. Seseorang yang selalu membuat jantungku berdetak lebih cepat ketika menatapnya, seseorang yang selalu membuatku senyum-senyum sendiri saat mengingatnya.
Seseorang berjas hitam keluar dari balik panggung, berjalan pelan menghampiri piano hitam di tengah panggung, lalu mulai memainkan sebuah lagu. “Untuk Beethoven, ini Fur Elise. Tapi untukku, ini Fur Alice,” ucapnya setelah memainkan lagu itu, dengan tangan terangkat, mengarah ke arahku. “Ich liebe dich, Alice.”

M
Tepat 123 kata, ditambah judul jadi 125 kata, karya ini kupersembahkan sepenuh jiwa untuk tantangan #FiksiLaguku :)
Share:

Rabu, 16 Juli 2014

Ditipu Bakso

Ini ketiga kalinya aku ikut tantangan @KampusFiksi dan tema kali ini adalah #DeskripsiBakso . Semoga aku tidak mengulangi kesalahan untuk yang ketiga kalinya -_- Okey! Enjoy reading, Kakak :)

---

          Di tengah teriknya matahari, Boim jalan-jalan seorang diri dengan riang gembira. Bibirnya seakan tidak lelah untuk selalu tersenyum. Saking lincahnya, rambut Boim yang mirip duri landak itu bergoyang naik turun mengikuti irama hentakan kaki Boim yang juga diiringi gerakan perutnya yang buncit.
“Andi! Farel!” teriak Boim sambil berlari menghampiri kedua sahabatnya. “Kalian mau kemana, nih? Ikut dong!”
“Kami mau ke rumahmu, Im,” balas Andi bersemangat. “Seminggu lagi, kan ulang tahunmu. Bukankah biasanya kamu menyelenggarakan pesta besar-besaran setiap tahun?”
“Tentu saja,” sahut Boim sombong.
“Omong-omong, tema tahun ini apa, Im? Tema dua tahun yang lalu, kan Tropical Fruit dan teman setahun yang lalu Veggie Land. Tema tahun ini harus lebih cetar dong...” balas Farel.
“Pasti dong!” kilah Boim tidak kalah sombong dari sebelumnya. “Tema tahun ini...”
“Boim! Andi! Farel!” sapa Roni.
Boim, Andi, dan Farel yang sedang asyik mengobrol serempak menoleh ke arah Roni yang dengan semangat berlari kearah mereka.
“Hai Roni!” sapa Boim penuh semangat. “Kamu sudah tau apa belum tentang pesta ulang tahunku? Eh iya, kamu mau kemana sih? Kok sepertinya buru-buru sekali?”
“Aku belum tau nih tentang pestamu,” jawab Roni. “Sebenarnya, aku mau mencari makan siang. Soalnya, Ibu tidak sempat memasak. Omong-omong, kalian lagi ngapain nih? Kuperhatikan dari kejauhan, seperti sedang diskusi penting saja,” celetuknya.
“Kami lagi membahas ulang tahun Boim, Ron,” jawab Andi.
“Hei! Kalian lapar?” tanya Boim. Andi, Farel, dan Roni saling berpandangan kemudian mengangguk pelan. “Kalau begitu, bagaimana kalau kutraktir makan siang? Anggaplah ini sebagai permulaan dari pestaku. Dengan begini, kalian bisa tau tema pestaku tahun ini.”
“Wah... boleh juga tuh!” sahut Farel senang.
Boim melangkah mantap dengan gaya sok bos menuju jalan raya diikuti Andi, Farel, dan Roni di belakangnya. Ketiga bocah itu, Andi, Farel, dan Roni terlihat tidak sabar mengetahui kemana Boim mengajak mereka makan siang, termasuk tentang tema pesta Boim yang selalu sukses membuat mereka kekenyangan setiap tahun saking banyaknya makanan yang dihidangkan. Langkah Boim terhenti di depan tenda bakso Mang Jono yang sudah sering ia kunjungi.
“Mang Jono!” sapa Boim sambil duduk di salah satu deretan kursi kayu yang masih kosong diikui ketiga sahabatnya. “Pesan bakso empat mangkok, yang ekstra banyak ya!”
“Siap!” sahut Mang Jono bersemangat. Beliau meracik empat mangkuk bakso dengan sangat lincah, bersemangat, dan cekatan. Kedua tangannya bergerak lincah, yang kanan sibuk meramu bumbu-bumbu dan menuangkan mie kuning serta bihun ke dalam sementara tangan kirinya sibuk mengaduk-aduk kuah bakso yang mengepul semakin lebat dan membuat perut  Andi  keroncongan.
“Kalau masih kurang, tambah saja sesuka kalian!” celoteh Boim sombong.
“Kalau mau tambah, silahkan! Sekalian sama gerobaknya juga boleh!” celetuk Mang Jono sambil meracik empat mangkuk bakso yang terlihat begitu penuh. “Silahkan!”
Mang Jono meletakan empat mangkuk bakso di atas meja, begitu pula dengan empat gelas air mineral. Tanpa berpikir panjang, Boim, Andi, dan Farel langsung menyantap bakso tersebut dengan lahap. Berbeda dengan ketiga sahabatnya, Roni hanya diam mematung dengan bibir mencibir dan kedua mata yang memandang rendah semangkuk bakso yang ada di hadapannya.
“Kenapa kamu tidak makan, Ron? Katanya lapar?” tanya Boim heran dengan mulut penuh bakso dan potongan mi kuning di sekitar mulutnya yang semakin semangat mengunyah. “Tidak jadi lapar?”
“Bukannya gitu,” sanggah Roni. “Aku, kan tidak suka bakso.”
“Ha?” ujar Andi. “Bakso itu, kan enak. Masa’ kamu tidak suka. Rugi tau!”
“Ya... mau bagaimana lagi. Namanya juga tidak suka. Sudah ya. Aku cari makan dulu,” jawab Roni agak kesal dengan ucapan Andi kemudian berlari pergi meninggalkan tenda bakso Mang Jono.
“Andi sih... pake ngomong kayak begitu,” sambar Farel. “Kan, kasihan Roni. Kamu, sih tidak mengerti perasaannya.” Andi hanya mengangkat bahu sambil memasukan potongan-potongan bakso yang begitu menggoda kedalam mulutnya. “Oh iya! Boim, jangan-jangan... tema pestamu itu ada hubungannya dengan daging, ya?” tebak Farel dengan gaya sok detektif.
“Betul sekali!” balas Boim. “Temanya adalah Beef Party! Segala macam makanan olahan daging akan ada disana! Jangan lupa datang ya!”
“Tunggu!” ujar Farel. “Roni tidak suka bakso. Itu berarti dia tidak suka daging sapi yang menjadi bahan dasar bakso. Iya, kan?”
 “Siapa tau... yang membuatnya tidak suka itu bihunnya atau mi kuningnya. Kan belum tentu bakso yang membuatnya tidak suka,” bantah Andi.
“Andi, apa kamu lupa? Roni sangat suka mi ayam. Tidak mungkin dia tidak suka mi kuning. Lagipula, ibunya sering memasak bihun pedas. Kalau memang Roni tidak suka bihun, ibunya tidak mungkin memasak bihun pedas sesering itu,” sanggah Farel.
“Benar juga kamu, Rel!” balas Boim. “Yah... mau bagaimana lagi. Kalau memang Roni tidak suka daging, kita tidak bisa berbuat apa-apa.” Andi dan Farel mengangguk bersamaan.
Hari yang ditunggu-tunggu Boim telah tiba. Rumahnya yang besar nan mewah dipenuhi para tamu yang bergantian mengucapkan selamat dan curahan doa-doa baik kepadanya. Andi dan Farel sudah datang dengan kedua orang tua mereka yang kini sedang berbincang-bincang dengan kedua orang tua Boim sementara Andi dan Farel sibuk mencicipi berbagai macam hidangan yang mengundang nafsu mereka.
Setelah menunggu selama satu setengah jam, akhirna Roni datang dengan sekotak hadiah besar yang langsung ia berikan kepada Boim. “Ng.. Roni... masalah bakso itu...”
“Kenapa?” tanya Roni sambil mengambil beberapa potong daging sapi panggang dan mulai menyantapnya dengan saus bawang. Boim, Andi, dan Farel sama-sama terbelak melihatnya. “Kalian kenapa, sih? Kenapa melihatku seperti itu?” Boim, Andi, dan Farel hanya menggeleng pelan sementara Roni sibuk mencicipi hidangan lain seperti sosis bakar, kornet telur goreng, dan tumis daging dengan paprika.

“Roni kok sekarang suka daging? Padahal seminggu yang lalu ia kelihatan benar-benar tidak suka dengan yang namanya bakso,” ujar Andi. Boim dan Farel hanya menggeleng pelan. 

Jumlah kata : 897 kata ditambah 2 kata dari judul, menggunakan kata 'kemudian' dua kali, dan tidak menggunakan kata 'lalu', 'lantas', dan 'terus'.
Share:

Minggu, 13 Juli 2014

Rujak Ciamplas Mang Jono

Tidak terasa kini sudah memasuki pertengahan bulan Ramadhan. Lima belas hari atau tiga minggu kurang enam hari lagi semua umat muslim di Indonesia akan bersuka cita merayakan kemenangan. Sambil kipasan, Pak Hedi duduk di kursi rotan depan rumah dengan wajah sumringah. Setiap orang yang lewat di depan rumahnya selalu disapa dengan ramah. Tentu saja, karena kini istrinya sedang mengandung anak pertama mereka. “Pak Hedi tidak bekerja hari ini?” tanya Pak Budi yang hendak pergi bekerja sambil menurunkan standar motornya. Ya, berangkat kerja. Itu sudah pasti. Terlihat dari rambut cepaknya yang disempong dan terlihat begitu klimis dan mengkilap, kemeja putih kusam tanpa kerutan sedikitpun, celana hitam yang terlihat begitu licin, dan tas kerja cokelatnya yang sudah usang namun terlihat begitu berarti. Pak Hedi beranjak dari kursi rotan lalu menghampiri Pak Budi.
“Sebenarnya, sih aku mau berangkat kerja. Akan tetapi, ibu mertuaku minta aku ambil cuti soalnya istriku lagi hamil,” jawab Pak Hedi sambil terus kipasan.
“Ohh... selamat ya. Omong-omong, sudah berapa bulan nih?” tanya Pak Budi antusias.
“Sudah hampir tiga bulan. Doakan saja ya semoga semuanya lancar,” ujar Pak Hedi. “Pak Budi ini mau kerja, kan ya?” Pak Budi mengangguk bangga kemudian teringat bahwa tidak sepantasnya ia berada disini mengingat beberapa menit lagi ia sudah harus sampai di tempat kerja.
“Oh iya iya. Aku berangkat dulu, ya. Malah keasyikan ngobrol disini,” Setelah pamitan, Pak Budi melajukan motornya sambil melambaikan tangan rendah kepada Pak Hedi. Meski masih pagi, cuaca terasa cukup panas bagi Pak Hedi yang terus kipasan dengan kipas sate yang sudah gosong di bagian sampingnya.
“Hedi! Hedi! Hedi!” Pak Hedi yang sedang adem ayem kipasan sambil duduk-duduk di atas kursi rotan tiba-tiba beranjak cepat dengan jantung yang berdetak begitu cepat karena kaget. “Hedi! Hedi!”
“Ada apa, Bu?” Ibu mertua Pak Hedi terlihat begitu cemas sambil terus meremas-remas sehelai kain serbet dengan kedua tangan keriputnya yang bergetar. “Kenapa ibu terlihat khawatir?”
“Hedi, coba kamu lihat keadaan Sinta sekarang! Cepat!” Dengan perasaan gugup setengah khawatir, Pak Hedi buru-buru masuk ke dalam kamar Sinta. Terlihat Sinta terbaring dengan kedua mata yang kelelahan dan wajah yang pucat. Meksi begitu, Sinta masih bisa tersenyum saat mengetahui kedatangan suaminya.
“Apa yang terjadi, Sinta? Apa yang terjadi?” tanya Pak Hedi sambil duduk di sisi samping ranjang lalu membelai pelan rambut Sinta. Sinta mengembangkan senyumannya kemudian mengelus rahimnya yang membesar dengan sebelah telapak tangannya. “Apakah ada yang terjadi dengan bayi kita?”
“Kang...” ujar Sinta lirih.
“Iya, ada apa?” tanya Pak Hedi lembut sambil terus mengelus rambut Sinta.
“Aku kepengen rujak nih, Kang,” jawab Sinta sambil mengedipkan matanya genit.
“Rujak?” Kening Pak Hedi berkerut hebat mendengar permintaan istri kesayangannya.
“Iya, Kang. Aku kepengen rujak yang dijual Mang Jono di Pasar Ciamplas yang biasa aku beli. Tolong belikan, ya Kang?” pinta Sinta manja.
“Aduh... Sinta ngidam nih!” batin Pak Hedi bingung. “Mana ada puasa-puasa begini orang jualan rujak? Lagian, aku kan tidak tau penjual rujak bernama Mang Jono yang biasa jualan di Pasar Ciamplas.”
“Kang Hedi bisa belikan rujak untuk aku, kan?” tanya Sinta.
“Aduh... Kalau siang-siang begini kan tidak ada yang jualan rujak, Dik. Memangnya Dik Sinta maunya sekarang, ya?” ujar Pak Hedi balik bertanya.
“Yang kepengen rujak itu bukan Sinta, tapi bayi kita, Kang,” jawab Sinta sambil menggerakan bola matanya ke arah rahimnya.
“Hedi,” Pak Hedi menoleh cepat ke belakang dan tampak ibu mertua berdiri di ambang pintu, masih dengan sehelai kain serbet yang terlihat begitu kusut dalam genggajman erat kedua tangannya. “Cobalah, kamu cari dulu di Pasar Ciamplas. Siapa tau Mang Jono jual. Namanya ngidam kan gitu, Di. Tidak bisa ditawar.”
“Iya, Bu,” jawab Pak Hedi. “Sinta, aku cari dulu ya rujaknya. Kamu tunggu sebentar. Aku pasti dapat rujak untuk bayi kita.”
“Akan tetapi, aku tidak mau sembarang rujak. Aku maunya rujak Mang Jono yang dijual di Pasar Ciamplas,” tambah Sinta. Pak Hedi mengangguk kemudian mengecup kening Sinta penuh kasih sayang dan melangkah pelan keluar kamar.
“Hedi,” panggil ibu mertua. “Kamu harus menuruti permintaan Sinta. Permintaan istri yang hamil itu harus dituruti lho!”
“Iya, Bu,” balas Pak Hedi sambil mengangguk kemudian pamit untuk pergi. Setelah mengambil helm hitam usangnya yang sudah kehilangan kacanya itu dari dalam lemari kayu, Pak Hedi langsung melesat menuju Pasar Ciamplas yang letaknya cukup jauh dari rumah. Saat sedang seriusnya menjajah setiap tempat di sekitar Pasar Ciamplas yang ia lewati, tiba-tiba... “Aduh... bensinnya hampir habis, nih! Mampir ke SPBU dulu aja deh!” Pak Hedi merasa begitu shock saat melihat antrian yang begitu panjang di SPBU. Terlebih saat mengetahui bahwa hari semakin siang. Setelah menunggu selama lima belas menit, akhirnya tiba gilian Pak Hedi untuk isi bensin. Setelah itu, Pak Hedi langsung melanjutkan perjalanan mengingat Sinta yang pasti menunggu dengan rasa tidak sabaran di rumah.
Seperti dugaan Pak Hedi, tidak terlihat barang satu gerobak rujak pun di sekitar Pasar Ciamplas. Setiap pedagang pakaian di sekitar Pasar Ciamplas yang ditanyai oleh Pak Hedi tentang penjual rujak justru tertawa sambil menyindir. “Mencari penjual rujak di sekitar Pasar Ciamplas saja susahnya setengah mati. Apalagi kalau harus penjual rujak bernama Mang Jono.” Karena lelah berkeliling kesana kemari di bawah terik matahari, Pak Hedi memutuskan untuk mampir dulu ke rumah temannya yang dekat dengan Pasar Ciamplas.
“Hei, Hedi!” sambut Pak Mar dengan wajah ramah sambil memeluk Pak Hedi. “Kamu terlihat kelelahan. Bukankah seharusnya kamu bekerja?”
“Aku ngambil cuti untuk mendampingi istriku yang sedang hamil,” jawab Pak Hedi. “Kamu lihat penjual rujak apa tidak?”
“Mana ada penjual rujak puasa-puasa begini. Kamu ini ada-ada saja,” jawab Pak Mar tertawa lepas.
“Istriku ngidam rujak, nih. Sudah kucari dimana-mana tapi tidak ada,” keluh Pak Hedi. “Apalagi, istriku hanya mau rujak Mang Jono yang biasa jualan di Pasar Ciamplas.”
“Istrimu itu... Sinta, kan?” Pak Hedi mengangguk. “Sebentar, aku masuk ke dalam dulu ya?” Pak Hedi cukup lama menunggu Pak Mar. Setelah beberapa menit, Pak Mar muncul dengan kresek hitam kecil yang ia sodorkan ke arah Pak Hedi.
“Apa ini?” tanya Pak Hedi heran.
“Rujak. Istrimu ngidam rujak, kan? Nih!”
“Akan tetapi, istriku itu hanya mau rujaknya Mang Jono. Takutnya kalau rujak dari orang lain, dia tidak mau,” keluh Pak Hedi.
“Lah aku ini Mang Jono,” Kening Pak Hedi seketika berkerut. “Namaku itu, kan Marjono. Biasanya orang-orang manggil aku Mar, tapi kalau jualan rujak namaku itu Mang Jono. Sinta biasanya ya beli rujak di aku.”
“Oh... Jadi kamu itu Mang Jono yang biasa jualan di Pasar Ciamplas?”
“Iya,” jawab Pak Mar.
“Tau gitu sih aku langsung saja kesini, tidak usah keliling Pasar Ciamplas sambil tanya ke orang-orang. Malah ditertawakan deh!” ujar Pak Hedi sambil menerima rujak pemberian Pak Mar. “Terima kasih banyak ya.”
“Berkorban sedikit lah... Namanya juga untuk bayi pertama,” balas Pak Mar. “Cepat berikan ke Sinta. Dia pasti sudah tidar sabar.”
“Iya... iya... Mang Jono... Mang Jono...”

1108 kata ditambah 4 kata dari judul, ini persembahanku untuk tantangan #EkspresiPuasa :)
Share: